Sejak kemunculannya menjadi pemenang Singaporean Idol tahun 2009, nama Sezairi Sezali atau yang lebih dikenal dengan Sezairi, makin dikenal, terutama bagi penikmat musik di mancanegara. Namun, karir bermusiknya tidak semerta-merta melejit pasca Idol, karena dirinya pun harus menahan impiannya selama 2 tahun demi mengikuti wajib militer di negaranya. Setelah itu, barulah Sezairi leluasa untuk meluapkan hasrat bermusiknya melalui karya-karya yang dirilisnya. Dan kali ini, untuk mempromosikan musik terbarunya, pria kelahiran 6 Agustus 1987 ini bertandang ke Jakarta untuk melakukan beberapa radio show serta promo tour single terbarunya ‘Mirage’, dan menyempatkan diri untuk berbincang bersama Creative Disc, dengan dukungan Sony Music Indonesia.

CD: Apa kabar?
Sezairi: Baik.

CD: Ini tentu bukan pertama kalinya kamu datang ke Jakarta?
Sezairi: Ya, tidak juga.

CD: Seberapa kenalnya kamu dengan kota ini?
Sezairi: Saya sering datang kemari dulu. Dan saya pernah datang dalam rangka pesta bujang saya (sambil tertawa). I love Jakarta. Saya tumbuh dan besar di Bandung sekitar umur 20 tahunan. Banyak teman saya kuliah disana. Terakhir kali saya kesana sekitar 3 tahun lalu. It’s been a while..

CD: Apa yang kamu bawa untuk fansmu disini saat ini?
Sezairi: Saat ini, tidak ada apa-apa. Kami sedang sibuk dengan sesuatu yang baru menurut saya. Jadwal saya padat dengan show di radio untuk promo tour tanpa penampilan apapun. But it’ll be something really interesting to do in the future, I think..

CD: Kamu mulai terkenal sejak Singapore Idol. Bagaimana kehidupanmu sejak itu?
Sezairi: Banyak hal yang terjadi sejak itu. Sepertinya satu dekade telah dilewati dan banyak sekali hal. Apa yang kamu ingin tahu? (sambil tertawa)

CD: Untuk karir bermusikmu..
Sezairi: Agak lucu sebenarnya, karena saat saya menang Idol, itu bukan awal karir saya. Saat saya ikut kompetisi tersebut saya tidak berharap banyak. Karena setelah kompetisi berakhir saya langsung masuk wajib militer selama 2 tahun., dan saya tidak berpikir momen itu adalah awal karir saya. Tapi setelah wajib militer, saya menjadi artis indie, kemudian saya mencoba menulis lagu dalam Bahasa melayu, melakukan beberapa hal di Malaysia dan juga Indonesia. Ini terjadi sekitar 2012-2014. Saya telah menyukai musik Indonesia sejak saya kuliah (dimana saya kuliah jurusan musik waktu itu di Singapore). Saya sering datang ke Jakarta untuk menonton event musik seperti Java Jazz dan menonton Indra Lesmana, Barry Likumahuwa dan musisi jazz Indonesia lainnya. Dan banyak musisi Singapore yang tahu tentang musisi Indonesia dan menjadikannya panutan untuk mencapai level tertentu. Dan saya juga sering datang untuk bertemu dan bergaul dengan musisi Indonesia. Dan budaya seperti itu yang sudah saya kenal sebagai seorang musisi muda. Saya bertemu dengan Ari Reynaldi melalui teman saya, Tulus. Dan saya meminta kesediaan Ari untuk menjadi produser musik saya, saat itu saya telah menjadi artis indie dan hendak merilis EP. Kami melakukan proses rekaman juga di Bandung. Jadi ini merupakan hal yang sangat berkaitan antara saya dengan segala sesuatu yang terjadi di Jakarta dan Bandung. Setiap kali orang bertanya kepada saya mengenai Jakarta, terlalu banyak yang bisa saya ceritakan. Selalu menyenangkan untuk bisa kembali kemari. Bagi saya, atmosfir kreativitas disini sangat ‘gila’. Orang-orang disini sangat menghargai seni. Karena jika dibandingkan dengan Singapore, ada banyak tekanan-tekanan untuk mengekspresikan seni disana. Dan sangat berbeda jauh dibandingkan disini. Dan saya sebagai artis merasa disini sebagai rumah sendiri. Sangat nyaman untuk melakukan hal yang kusuka.

CD: Berbicara tentang skena musik di Singapore, bagi yang belum mengetahuinya, bagaimana gambarannya?
Sezairi: Sejarahnya panjang untuk musik di Singapore. Di awal tahun 60an dan 70an jika kamu mengenal film-film yang dibintangi P. Ramlee, semua musiknya dibuat di Singapore. Jika kamu berpikir kemana jalur para musisi di Singapore, para musisi keturunan Cina akan terjun ke musik Mando (mandarin) dan mereka akan coba pindah ke Hong Kong atau Taiwan, musisi keturunan Melayu akan bergerak ke Utara (Malaysia) dan musik barat (English) masih menjadi suatu hal yang baru di Singapore. Menciptakan lagu barat di awal 2000an berarti kamu harus siap bersaing dengan musisi internasional dan bukan musisi lokal. Tapi disini (Indonesia), kamu punya bahasa umum, jadi bahasa itulah yang akan digunakan dalam bermusik. Agak berbeda dengan Singapore karena disana rata-rata orang bisa tiga bahasa (Trilingual), jadi susah untuk menunjuk satu bahasa yang umum. Dan sejak kebanyakan disana bicara bahasa Inggris, jadi musik barat mulai berangkat dari awal lagi. Dan saya rasa saat ini sudah cukup bagus perkembangannya, dan cukup banyak artis (musik barat) dari Singapore yang datang kemari untuk tampil.

CD: Bagaimana kamu mendeskripsikan gaya bermusikmu?
Sezairi: Saya tidak pernah mau mengkerucutkan musik saya. Saya menyebut diri saya seorang artis pop. Dan kamu harus mendengar musik saya (untuk mengetahuinya). Saya tumbuh dengan mendengarkan banyak musik R&B, sedikit quasi jazz. Orang tidak perlu takut untuk mengkategorikan dirinya sebagai musisi pop, karena pop mencakup banyak hal. Yeah, I would say pop music.

CD: Apakah kamu berencana untuk merilis sebuah EP?
Sezairi: Yup.

CD: Ceritakan sedikit mengenai rencanamu itu.
Sezairi: EP terbaru saya ditulis dan direkam di Swedia tahun lalu. Sebagian besar sudah selesai. Dan sepanjang tahun ini kami berusaha untuk menyempurnakannya. Merilis lagu lewat internet. Saya dan produser saya Harry berusaha untuk memperkaya pengetahuan kami tentang musik. Jadi saat saya berkata sesuatu, ia langsung mengetahui maksudnya. Dan saat ia memberitahu saya untuk mengubahnya sedikit, saya akan langsung mengetahuinya. Dan itu yang saya pelajari, bukan saja sebagai seorang musisi tapi juga sebagai artis rekaman. Kamu harus melebarkan pengetahuan mengenai musik, jadi dengan siapapun kolaboratormu nanti, akan sangat memudahkan untuk berkomunikasi.

CD: Apakah EP tersebut memiliki tema tertentu?
Sezairi: Secara aransemen, lagu-lagu tersebut sangat berbeda satu dengan lainnya. Seperti sebuah transisi ke arah modern seperti yang saya mau. Namun secara karakteristik sound, saya ingin adanya sound dari masa remaja saya. Jika kamu mendengarkan ‘It’s You’, ada nuansa seperti musik dari era 90an macam Boyz II Men. Dan single terbaru saya ‘Mirage’ masih dengan nuansa 90an juga tapi lebih ke arah synth-elctropop. Jadi EP ini seperti menggambarkan musik yang saya dengarkan selama saya tumbuh, dimana sangat menyenangkan karena jenis musik itulah yang paling berkesan buat saya. It’s more enjoyable when I sing it. Bagi saya itu adalah project paling otentik yang pernah saya buat sampai saat ini.

CD: Lagu ‘It’s You’ adalah sebuah balada yang manis.
Sezairi: Itu lagu balada pertama saya. Saat saya masuk ke studio, saya sudah berpikir untuk membuat sebuah lagu balada. Jadi saya mengumpulkan orang-orang, dan bilang bahwa kita akan menulis sebuah lagu balada. Saya ingin menantang diri saya sendiri. Tapi juga karena saya ingin menulis sebuah permintaan maaf untuk isteri saya (sambil tertawa). Pada malam pernikahan saya, saya lupa dengan kata-kata yang harus saya ucapkan. Saya telah menulisnya dalam secarik kertas yang sudah saya siapkan, dan ada di kantong saya. Tapi saya lupa jika ada disitu. Jadi orang-orang membantu saya mencarinya. Dan disitu saya tidak sempat mengatakan hal-hal yang perlu saya ucapkan di hari yang paling penting dalam hidup saya. Jadi saya menuangkannya dalam sebuah lagu, semua yang perlu saya sampaikan. Saya tidak pernah mengungkapkan kehidupan pribadi saya sebelum ini. Kami sudah bersama selama satu dekade dan tetap merahasiakannya, karena saya pikir saya tidak ingin memberikan ‘tekanan’ pada istri saya. Tapi dengan semua yang telah terjadi, saya ingin menjadi lebih otentik bagi diri saya. Saya harus jujur pada diri saya. Dan semuanya tampak lancar. Jika seseorang menanyakan apa kaitannya antara kesuksesan lagu ‘It’s You’ dengan segala hal yang telah terjadi sebelumnya, saya akan menjawabnya sekaligus dengan sedikit nasihat yang perlu saya sampaikan kepada para penulis lagu, ambil pengalamanmu dan ubahlah menjadi sesuatu yang otentik sebisamu, dan saat orang lain mendengarkannya akan terasa sangat nyata. Jadi ini adalah satu hal yang paling besar yang saya pelajari selama ini dalam hal bermusik dan menulis lagu.

CD: Single terbarumu ‘Mirage’ sangat berbanding terbalik dengan ‘It’s You’. Ceritakan sedikit mengenai lagu tersebut.
Sezairi: Saya menulis tentang pengalaman saya dalam menyerap / merasakan emosi. Jadi, lirik dalam lagu saya merupakan perasaan, bukan hanya hal-hal yang terjadi pada saya tapi juga orang-orang di sekitar saya. Tapi untuk ‘Mirage’, saya sampai ditahap dimana saya mulai terobsesi dengan segala hal. Dan saya adalah orang obsesif. Sebagai contoh, saat saya suka dengan mobil dengan remote control, tahun depan saya akan memainkan mainan tersebut sepanjang tahun. Dan tahun lalu saya belajar memainkan gitar bass, dan sepanjang tahun saya memainkannya terus, 6 jam per hari. Dan sikap obsesif tersebut juga terpancar dalam hubungan yang saya jalani. Dan jika saya melihat ke belakang, hubungan gagal yang pernah terjadi dalam hidup saya adalah karena saya tidak bisa menahan sikap obsesif saya. Saya tidak menahan pikiran sempit yang sangat tidak sehat dalam suatu hubungan. Jadi lagu itu kira-kira seperti itu. Jika kamu telah menentukan suatu visi (dalam berhubungan atau hidup), kamu akan menjadi obsesif untuk hal itu. Dan kamu akan mulai berpikiran tentang hal-hal yang tidak ada atau belum terjadi. Di ‘Mirage’, kamu menjadi paranoid, mulai percaya dengan omongan orang, hal-hal yang mustahil. Dan lagu ini, memang dalam konteks hubungan dengan seorang perempuan, tapi juga lebih kepada kebiasaan-kebiasaan buruk (toxic behavior) yang perlu dihindari. Dan jika diaplikasikan dalam kehidupan saat ini, kita sebagai manusia harus lebih berhati-hati dan tidak gampang percaya dengan informasi yang cepat sekali beredar, terutama lewat internet. Dan melalui lagu ini, saya ingin menekankan mengenai hal tersebut. Sangat penting bagi orang untuk memiliki kesadaran diri. Saya rasa dengan sebuah lagu orang-orang akan gampang mencernanya.

CD: Siapa penyanyi yang kamu dengarkan saat masa remaja?
Sezairi: Saya banyak mendengarkan Michael Jackson, karena saya tidak terlalu mengerti tentang alat musik saat itu. Yang membuat saya kagum dengan Michael Jackson adalah saat ia menyanyi dan musiknya berhenti, ia masih tetap stabil menahan beat-nya, karena ia sangat ritmis dengan gayanya. Jadi saat saya mulai bermusik, saya tidak tahu bermain alat musik, jadi saya harus memaksimalkan potensi vokal saya. Dan itulah fondasi bermusik saya. A lot of Michael Jackson… Saya juga terinspirasi dengan musik punk-rock, namun dalam esensi menulis lagu. Menurut info, musik yang akan terus kamu ingat selama hidupmu adalah musik yang kamu dengarkan saat berumur 14-16 tahun. Karena saat masa remaja, kamu punya sensabilitas yang tinggi terhadap musik. Dan baru-baru ini saya kembali mendengarkan musik Blink 182, terutama album “Take Off Your Pants and Jacket” dengan lagunya ‘First Date’ dan ‘Roller Coaster’. Jika melihat ke belakang, mungkin kamu akan berpikir sedikit bodoh, tapi simplifikasi dari emosi yang ada dalam tiap kata-katanya sangat menohok. Dan itu yang ingin saya capai setiap menulis lagu. Saya benci keribetan. Dalam menulis, saya ingin se-simple mungkin. Saya ingin kamu cepat paham dengan yang lirik yang saya ciptakan, tanpa harus berpikir keras untuk menemukan artinya. Saat kamu mendengarkan lagu saya, saya ingin kamu langsung terhubung dengan liriknya. Itu adalah pendekatan saya dalam menulis lagu. Dan itu juga pendekatan yang bisa saya lihat yang dilakukan oleh musik punk-rock. Sangat lugas, terus terang dan langsung ke maksud yang dituju.

CD: Jadi apakah itu akan berpengaruh secara musikalitas juga?
Sezairi: Tidak sama sekali (sambil tertawa). Itu bukan diri saya sebenarnya.

CD: Musik apa yang kamu dengarkan saat ini?
Sezairi: Banyak sekali. Saya mendengarkan Daniel Caesar, sempat menontonnya konser juga. Kemudian H.E.R., juga Ne-Yo dengan albumnya “Saturn”. Dan juga musisi Singapore, Charlie Lim. Dia seperti harta karun dari musik Singapore. Jika kamu ingin melihat sebuah kompleksitas dari musisi Singapore, Charlie Lim adalah jawabannya. Karena musisi di Singapore sedikit kompleks. Kami berada di antara hal-hal besar yang terjadi di Indonesia dan Malaysia. Dan kami berada di tengah-tengah, berusaha menemukan suara kami. Dan saya harap beberapa waktu ke depan, Asia Tenggara akan bisa menikmati musik kami.

CD: Ada pesan khusus untuk para fans di Indonesia?
Sezairi: Ya. Bagi yang mendengarkan musik saya, kalian sangat amazing. Karena bagi saya, para pendengar musik di Indonesia sangat istimewa, karena secara kebudayaan musik, kalian lebih maju. Jadi apa yang didengar oleh pendengar musik Indonesia sangat berbeda dengan pendengar musik Singapore. Dan hal itulah yang menarik buat saya. Karena saya banyak menerima pesan yang menanyakan tentang bagaimana lagu ini ditulis, ditulis dalam kunci apa, kenapa saya menulisnya, dan banyak hal lainnya yang datang dari orang-orang yang sangat antusias terhadap musik dan budaya musiknya. Karena di Singapore, kamu harus tahu bahwa seni bukan hal yang penting disana. Banyak artis, penulis lagu, penyanyi disana, namun musik bukanlah hal yang besar disana. Tapi berbeda dengan disini. Jika kamu seorang artis, maka kamu istimewa, kamu punya peran besar disitu. Jadi itulah yang menarik mengenai pendengar musik disini. Orang-orang perhatian dengan musik, dimana itu adalah hal yang perlu dihargai juga oleh para musisi, karena orang-orang disini juga menghargai musik. And that’s not very common.

CD: Pertanyaan terakhir, siapa musisi Indonesia favoritmu?
Sezairi: So many, dude. So many.. Akan sangat bias kalau saya menyebut Tulus. Hanya karena saya kenal dia secara pribadi. Saya pikir ia hidup dan bernafas dengan pesan-pesan yang ia sampaikan (dalam sebuah lagu). Dan saya yakin semua orang tahu. Ia telah menjangkau begitu banyak orang dengan menyampaikan banyak hal-hal yang benar. Sangat jarang melihat orang yang begitu tulus dengan karyanya.